Pantang Dirikan Rumah Berdinding Bata

Kopas tuntas dari KRJogja: Yang namanya mitos tentu saja selalu saja menyertai kehidupan dan kepercayaan masyarakat, apalagi itu oleh para sesepuh dan oran-orang tua yang tentu saja tidak akan main-main dengan arti sebuah mitos. Seperti halnya dengan yang bisa terlihat di Dusun Beteng, Kelurahan Margoagung, Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman.

Sebenarnya semua berlangsung biasa-biasa saja, namun hal yang biasa menjadi tidak lazim terlihat dari bangunan-bangunan rumah dari beberapa warga. Walau tidak semua, namun hampir sebagian rumah warga tidak ada yang terbuat dari bangunan yang permanen. Bukannya perekonomian warga tidak mampu, namun ada suatu perkara yang membuat dan membatasi warga untuk membangun rumah dengan design permanen.

Artinya, warga Dusun Beteng ini sebagian besar rumahnya menggunakan bahan dasar dari kayu ataupun bambu, tidak dengan mnggunakan bahan tembok yang terbuat dari batu bata ataupun tombok yang menggunakan bahan dari batako sekalipun. Pada intinya, setiap rumah harus terbuat dari kayu tidak boleh menggunakan dinding yang permanen, dalam hal ini adalah tembok batu.

“Mau dibayar berapapun saya tidak akan mengganti rumah saya dengan rumah tembok,” begitu kata Wardiutomo (75), sesepuh dusun setempat.

Benteng Gaib

Dusun Beteng ini terletak di sebelah barat laut kota Yogyakarta, kira-kira berjarak 30 km atau membutuhkan waktu selama 45 menit bila melakukan perjalanan dari pusat kota ini. Kata Beteng itu sendiri, dalam bahasa Jawa yang sebenarnya adalah diartikan sebagai tembok yang kokoh, namun dalam penjabaran bahasa Jawa yang lebih luas lagi, kata Beteng bisa juga dimaknakan sebagai Benteng atau tempat pertahanan pasukan dalam peperangan.

“Ini semua dimulai ketika masa perjuangan bangsa Mataram. Dahulu, ketika jaman perjuangan Pangeran Diponegoro, beliau membuat benteng gaib di Dusun ini,” terang Wardiutomo.

Konon ketika peperangan yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro yang berlangsung sekitar tahun 1825 hingga 1830 tersebut, pejuang sakti kebanggan Yogyakarta ini membangun benteng gaib di lokasi Dusun Beteng. Kenapa bisa dikatakan gaib, karena benteng itu hanya bersifat maya alias tidak nampak.

Bagi orang pribumi atau pejuang tanah Jawa hal itu tidak dirasakan, namun bagi pasukan kompeni Belanda, dari kejauhan sekitar Dusun Beteng ini terlihat seperti terdapat benteng yang megah nan besar seolah berisi ribuan pasukan berani mati tanah Jawa.

“Itu kalau yang melihat orang kita sendiri, sama sekali tidak nampak. Namun kalau yang melihat orang-orang Belanda, Dusun Beteng ini seperti sebuah benteng yang isinya pasukan kita,” terangnya.

Benteng gaib ini ditujukan untuk membendung laju pasukan Belanda yang akan memasuki bumi Mataram melalui arah utara. Di utara dari wilayah Ambarawa dan Bedono merupakan kantong-kantong basis pasukan Belanda kala itu. Sedang pasukan kompeni sangat ingin sekali menguasai tanah Mataram saat itu untuk dijadikan basis mereka berikutnya. Itulah sebabnya mengapa Pangeran Diponegoro yang didukung dengan pasukan setianya melakukan perlawanan hebat di Yogyakarta.

“Dulu ketika jaman perjuangan, pasti ada saja pasukan penjajah-penjajah yang mati tanpa sebab ketika akan memasuki Dusun Beteng ini. Padahal kami tidak mengapa-apakan, tahu-tahu sudah ditemukan beberapa mayat bergelimpangan. Kalau kami menemukan pasukan yang meninggal langsung kami makamkan di sana, sekalian juga kuda-kudanya,” katanya.

Karena benteng gaib buatan Pangeran Diponegoro maka warga pun menganggap pantang untuk membangun rumah beteng alias berdinding batu. “Coba bayangkan, Belanda saja baru sekedar melihat beteng yang tidak nyata terlihat saja sudah seperti itu. Apalagi kalau itu beteng yang dijadikan rumah dan kemudian kita diami? Wah, itu akan lebih gawat lagi,” kata Wardiutomo mewanti-wanti.

Jika Melanggar…?

Kepercayaan turun temurun dari moyang hingga sampai pada saat ini masih kental dirasakan oleh warga Dusun Beteng, yaitu tidak membuat rumah dengan bangunan yang permanen. “Wah itu bisa parah. Bisa-bisa mati secara tidak wajar dan tak terduga, atau bisa saja saudara lainnya yang akan kena musibah,” lanjutnya.

Diceritakan pula oleh sesepuh dusun ini, pernah suatu saat ada yang nekat melanggar pantangan yang berlaku di dusun tersebut. Ada seorang warga yang memberanikan diri merenovasi rumah yang dari bangunan kayu diubah menjadi bangunan permanen. Apa yang didapatnya kemudian, tak beberapa waktu orang tersebut meninggal secara mendadak.

Tidak banyak orang yang tahu sebab akan hal itu, namun banyak penduduk yang menyatakan kalau inilah sebuah konsekuensi yang harus diterima ketika suatu pantangan dusun dilanggar. Masih dengan inti cerita yang sama, pada awalnya yang mati adalah hewan ternaknya, kemudian orang yang melakukan renofasi tersebut dan kemudian berujung kepada keluarga yang lainnya turut terkena imbas penderitaan dengan mengalami berbagai penyakit yang aneh.

Ada juga cerita lain dari kakek empat orang anak ini. Ternyata seperti itu tidak berlaku untuk rumah yang untuk perseorangan saja, bangunan yang bersifat umum saja juga pantang untuk dibangun dengan bangunan yang berdinding tembok permanen. “Jangankan rumah, pos ronda kecil yang tidak dihuni saja, kami tidak berani membangun dengan gedhong,” imbuh Wardiutomo.

Entah sampai kapan fenomena Dusun Beteng yang seperti ini akan terus berlangsung. Walaupun ada yang berani mendirikan bangunan permanen, namun sebagian warga memang sependapat dengan apa yang dikatakan oleh sesepuh tentang aura magis yang menyelimuti dusun ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s